hafiz razak

Thursday, January 29, 2009

Mahasiswa Dipersimpangan Jalan

Seminggu sudah berlalu bagi pilihanraya kampus-kampus yang berada disekitar lembah klang, seperti di UM,UKM,UIAM, dan sebagainya, yang mana keputusan telah diperolehi disetiap kampus masing-masing, apa yang pasti momantem perubahan yang ditunjukkan oleh para mahasiswa disetiap kampus menunjukkan paras yang positif untuk bersatu berubah, tetapi dikekang habis-habisan oleh tangan-tangan ghaib dalam pilihanraya yang lalu.

Apa yang penting kita mahukan mood ini dipertingkatkan dari semasa ke semasa, agar hak-hak mahasiswa kembali menyinar. Sebagaimana yang diketahui semakin hari mahasiswa semakin berada dipersimpangan antara perjuangan idealisme dan pragmatisme, peranan mahasiswa sebagai agent of change dan guardian of value seolah-olah terus memudar seiring berjalanya waktu.

Begitu janggal mengapa suara mahasiswa sejak kebelakangan ini tidak kedengaran seolah kontra dengan harapan pada mahasiswa sebagai aspirasi murni pembawa suara murni rakyat.? Mungkin catatan sejarah tiddak lagi mencatat mahasiswa sebagai motor pengerak kepada perubahan sosial? Bagaimana pula dengan jolokan menara gading yang diberikan kepada kampus universiti? Atau apakah mahasiswa kini lebih suka dunggu daripada bakti siswa kepada sosial?

Realiti hari ini dilihat bahawa mahasiswa semakin jauh dengan masyarakat, asosial, egois sudah lama menjadi bualan mulut orang, mahasiswa lebih melulu kepada urusan akademik dan menjauji aktivitis kemasyarakatan, ungkapan mahasiswa sebagai agen perubahan menuntut mahasiswa harus selalu di hadapan sejajar dengan jolokan sebagai kaum intelektual dan kelompok yang terpilih, namun bukan beerti mahasiswa memisahkan diri dari masyarakat dengan gerakannya yang elitis dan bersifat eksklusif. Mahasiswa dan masyarakat bekerjasama ini kerana mahasiswa adalah sebahagian daripada masyarakat.

Mahasiswa kini sebok dengan essingment dalam bidang ilmu pengetahuan, terkadang tidak ubah seperti menampal balang yang bocor, jika pemerintah kini diibaratkan seperti balang yang bocor itu tadi, seharusnya mahasiswa mengambil peranan sebagai penampal kepada balang yang bocor tadi ataupun menjadi menggantikanya sahaja. Dalam hal ini mahasiswa berperanan sebagai kontrol politik mencari cara untuk melakukan kontrok tersebut dan harus memikirkan dan disesuaikan agar tetap berada diatas jalur damai.

Jika dikira terdapat banyak faktor yang menyebabkan mahasiswa kini tipis dengan sensitiviti sosialnya dan sebok dengan urusan sendiri walaupun tidak semua mahasiswa begitu. Sebut sahaja sistem pendidikan kini yang besalut kapitalistik, yang hanya berbicara soal material dan penciptaan kuantiti, bukannya kualiti. Namun tak akan ada habisnya untuk kita menyalahkan itu dan ini jika tidak bermula dengan diri kita dan komuniti yang berhampiran kita terdahulu.

Sebaiknya mahasiswa tidak terjebak dengan polorisasi dan pengkotak-katik, akhirnya menguntungkan sesuatu pihak dan merugikan mahasiswa sendiri. Perbezaan ideologi mesti dilepaskan demi perjuangan atas nama masyarakat yang luas. Perjuangan ini menuntut kerja keras dan bahkan terkadang mengganggu jam belajar kuliah namun ini semua bukan boleh dijadikan alasan yang kukuh untuk mahasiswa berdia diri sahaja. Peranan mahasiswa boleh disesuaikan dengan kapasiti masing-masing misalnya mewujudkan budaya keilmuan seperti diskusi, dan menjadi pahlawan dalam bidang masing-masing serta turun kejalan sekala-sekala. Apa yang penting mahasiswa berani menunjukkan sikap dan komitmennya.

1 comment:

  1. yea..salam ziarah..
    Dr Hatta sekarang ada di Mesir..sempadan Palestine dalam misi bantuan..doakan yea..

    ReplyDelete